Showing posts with label Hari Raya Korban. Show all posts
Showing posts with label Hari Raya Korban. Show all posts

Friday, November 27, 2009

Program Korban Papisma Bersama Masyarakat berjaya

(Biro IT)

Kuala Terengganu, 27 November 2009 (10 Zulhijjah 1430H)- Hari ini, Papisma Terengganu telah menempa satu sejarah baru apabila menjadikan Hari Raya Korban sebagai medan untuk berbakti kepada masyarakat. Hasil daripada kerjasama ahli-ahli Papisma Terengganu, Program Korban Papisma Bersama Masyarakat di bawah kendalian Dr. Md. Arif Ibrahim telah berjaya mengumpulkan kira-kira 100 ahli masyarakat yang miskin untuk menerima daging korban.

2 ekor lembu telah dikorbankan di perkarangan rumah ibu Dr. Md. Arif sendiri, di Kg. Titian Baru, 8 km dari Bandaraya Kuala Terengganu. Hasil kerjasama penduduk setempat, kerja-kerja menyembelih, melapah dan membahagikan daging yang dimulakan kira-kira pukul 3 petang itu telah selesai kira-kira pukul 4.30 petang.

Seterusnya, daging-daging itu dibungkus di dalam bekas-bekas kecil untuk diserahkan kepada wakil petugas untuk diedarkan kepada mereka yang telah disenaraikan.

Meskipun kehadiran wakil Papisma tidak menggalakkan ekoran terpaksa balik ke kampug masing-masing pada Hari Raya Aidil Adha ini, namun program telah dimeriahkan oleh penduduk setempat yang ringan tulang membantu sebagai amal bakti pada hari yang mulia ini.

Pengerusi Papisma Terengganu, yang juga turut hadir ke program ini melahirkan rasa syukur kerana program yang julung-julung kali diadakan ini mendapat sambutan daripada ahli-ahli. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Pengarah Program, Dr. Md. Arif Ibrahim di atas cetusan idea dan kesungguhannya telah menjayakan program seumpama ini.

Mudah-mudahan program seumpama ini akan dapat menjadi program tahunan Papisma Terengganu dan menjadi contoh kepada Papisma cawangan lain demi kepentingan masyarakat miskin dan marhain.

Insya Allah laporan bergambar akan menyusul.

Sunday, November 22, 2009

Awal Zulhijjah, hari yang dicintai Allah

(Kaki Kayu)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilUGkxVkbRzEZAPm9LhIrc7STkKv9lxTMFNxKaL4YS6n9h8JlI78vE8IwC9jXpkGwYSqyPd2Q6QUpB0STeMhFS3luhhEkRZKl_gHIdaIRCIv0GrpcGvvzsNVUJt12oTvVUheHc1HibrnM/s1600/aaa.jpg

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarga dan segenap sahabatnya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada hari di mana amal soleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, iaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fisabilillah? Beliau menjawab : Tidak juga jihad fisabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".
Imam Ahmad Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anh, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ertinya : "Tidak ada hari yang paling agong dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN
[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:"Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadis Qudsi :"Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku".
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun". [Hadits Muttafaq 'Alaih].
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".

[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala."Artinya : .... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ...". [Al-Hajj : 28].Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma."Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid". [Hadits Riwayat Ahmad].
Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha', tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu""Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah(Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah".
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah."Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ...". [Al-Baqarah : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.
[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta'atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya"
[Hadits Muttafaq 'Alaihi].

[5]. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma'ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama'ah ; bagi selain jama'ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta'ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu". [Muttafaq 'Alaihi].

[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu 'Anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari(memotong) rambut dan kukunya".
Dalam riwayat lain :"Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban".Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah."Artinya : ..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...". [Al-Baqarah : 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Wednesday, November 26, 2008

MENGERJAKAN IBADAH KORBAN MENURUT SUNNAH RASULULLAH S.A.W

(Dari Emel)

Alhamdulillah, Hari Raya Aidil Adha telah hampir tiba. Perkara yang sangat penting dalam hariraya ini adalah ibadat korban. Rata-rata rakyat Malaysia memang biasa dengan ibadat korban ini. Namun apabila diperhatikan, ramai yang tidak tahu tentang hukum dan amalan Rasulullah SAW. Sekiranya perkara ini diabaikan, sudah tentu ibadat mereka tidak diterima oleh Allah. Oleh itu marilah kita meneliti dan menghayati apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam hal ibadat ini agar amalan kita diterima oleh Allah SWT.

Berikut adalah artikel yang baik untuk dijadikan bahan bacaan dan panduan.


Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus

Ulama ahli sunnah wal jamaah telah menetapkan satu kaedah asas dalam menentukan sama ada amal ibadah kita diterima atau ditolak oleh ALLAH. Adalah penting bagi kita untuk benar-benar memahami kaedah asas ini agar kita tidak melakukan amalan yang sia-sia kerana ia tidak diterima ALLAH.

Kaedah yang dimaksudkan oleh penulis adalah amal ibadah tersebut hendaklah dikerjakan semata-mata ikhlas kerana ALLAH dan mengikuti (ittiba') sunnah Nabi s.a.w.

Firman ALLAH S.W.T:

"DIAlah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu, siapakah antara kamu yang lebih baik amalnya dan DIA Maha Berkuasa (membalas amal kamu) lagi Maha Pengampun (bagi orang-orang yang bertaubat)."

Oleh itu, sewajarnya dalam melaksanakan ibadah korban bersempena dengan perayaan Aidiladha ini, kita berusaha sedaya upaya mencontohi sunnah-sunnah Nabi s.a.w seperti berikut:

1. Waktu perlaksanaan ibadah korban.

Menyembelih binatang korban hanya boleh dilaksanakan setelah selesai solat hari raya Aidiladha dan berlanjutan sehingga akhir hari Tasyriq, iaitu tiga hari selepas solat hari raya Aidiladha. Oleh itu, penyembelihan haiwan korban boleh dilaksanakan pada 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

Imam Syafie r.h berkata:

"Waktu menyembelih haiwan korban adalah ketika imam telah selesai solat Aidiladha…Apabila hari-hari Mina telah berlalu (tarikh 11, 12 dan 13 Dzulhijjah), tidak boleh lagi menyembelih korban." – Rujuk Kitab Mukhtasar Kitab al-Umm fi al-Fiqh karya Imam Syafie, edisi terjemahan bertajuk Ringkasan Kitab al-Umm, Peringkas dan peneliti Hussain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, Pustaka Azzam, Jakarta (2004), jil. 1, m.s. 737.

Sabda Rasulullah s.a.w:
- Surah al-Mulk: 2.

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّي ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لأَّهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْء

Maksudnya:
"Sesungguhnya perkara pertama yang kita mulakan pada hari ini (Aidiladha) ialah kita solat kemudian menyembelih (bintang korban). Oleh itu, sesiapa yang melakukan sebegitu dia telah menepati sunnah kami. Sesiapa yang menyembelih sebelum solat, sesungguhnya sembelihan itu hanyalah menjadi daging untuk diberikan kepada keluarganya (sedekah) bukan termasuk binatang korban." – Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1961

Sabda Rasulullah s.a.w:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيُعِدْ
Maksudnya:
"Sesiapa yang menyembelih sebelum dia solat (Aidiladha), dia hendaklah mengulanginya." – Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 5561.

Sabda Rasulullah s.a.w:


كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ
Maksudnya:
"Seluruh hari-hari Tasyriq merupakan waktu penyembelihan." – Hadis riwayat Ahmad di dalam Musnad Ahmad, hadis no: 16151.

2. Haiwan korban tersebut tidak memiliki kecacatan.

Kita hendaklah pastikan bahawa haiwan yang hendak kita korbankan tersebut adalah dari jenis baka yang baik serta tidak memiliki kecacatan seperti buta, tempang, kurus, tanduk patah, telinga terkoyak, lemah dan penyakit lain.

Sabda Rasulullah s.a.w:

أَرْبَعٌ لاَ تَجُوزُ فِي الأََضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لاَ تَنْقَى
Maksudnya:
"Empat jenis binatang yang tidak dibolehkan dalam ibadah korban: Buta sebelah matanya yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, tempang yang jelas bengkoknya, tidak berdaya berjalan dan yang tidak mempunyai lemak (kurus)." – Hadis riwayat Abu Daud di dalam Sunan Abu Dawud, 2420.

3. Tidak menggunting rambut dan memotong kuku.

Bagi mereka yang ingin melaksanakan ibadah korban, dia tidak boleh menggunting rambut dan memotong kukunya semenjak tarikh 1 Dzulhijjah sehingga dia melaksanakan ibadah korban tersebut.

Sabda Rasulullah s.a.w:

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Maksudnya:
"Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang antara kamu semua ingin menyembelih korban, janganlah memotong rambut dan kukunya walau sedikit." – Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1977.

Larangan memotong rambut ini termasuk juga mencabut mahupun mencukur atau apa-apa cara yang boleh menghilangkan segala jenis rambut dan bulu di badan.

Menurut Imam al-Nawawi r.h:

"Yang dimaksudkan dengan larangan memotong kuku dan rambut adalah larangan menghilangkan kuku dengan memotong, mencabut atau dengan cara lain (secara sengaja). Termasuk juga larangan menghilangkan rambut baik sama ada mencukur, memendek, mencabut, membakar, menggunakan sesuatu untuk menghilangkan rambut dan apa jua cara sama ada pada bulu ketiak, misai, bulu ari-ari, rambut atu bulu-bulu lain di bahagain anggota badan yang lain." – Rujuk Kitab Syarh Muslim karya Imam al-Nawawi, jil. 13, ms. 138-139. Diukil dari kitab Ahkaam al-'Iedain fis Sunnah al-Muthaharah karya Syeikh 'Ali bin Hassan al-Halabi al-Atsari, edisi terjemahan dengan tajuk Meneladani Rasulullah Dalam Berhari Raya, Pustaka Imam asy-Syafie, Jakarta (2005), ms. 98.

Bagi mereka yang sengaja mahupun tidak sengaja memotong kuku ataupun rambut sebelum melaksanakan ibadah korban, memadai dia memohon keampunan kepada ALLAH dengan bersungguh-sungguh. Dia tidak dikenakan fidyah (tebusan atau denda).

Ibn Qudamah r.h berkata:

"Jika perkara itu berlaku, dia hendaklah segera beristighfar (memohon ampun) kepada ALLAH. Menurut ijmak tidak ada fidyah sama sekali, baik dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja." – Rujuk Kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah, jil. ms. 96. Dinukil dari kitab Ahkaam al-'Iedain fis Sunnah al-Muthaharah karya Syeikh 'Ali bin Hassan al-Halabi al-Atsari, ms. 99

4. Seekor unta atau lembu boleh dibahagikan kepada 7 bahagian.

Jabir r.a berkata:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Maksudnya:
"Kami pernah menyembelih (haiwan korban) bersama Rasulullah s.a.w ketika di Hudaibiyah. Seekor unta untuk 7 orang dan menyembelih lembu untuk 7 orang bersama-bersama Rasulullah s.a.w." – Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1318.

5. Boleh berkorban untuk diri sendiri serta ahli keluarganya.

Seseorang dibenarkan berkorban serta berkongsi pahalanya bagi dirinya sendiri serta bagi pihak keluarganya sekalipun jumlah yang ramai dan hanya dengan seekor kambing atau sebahagian dari tujuh bahagian itu.

Atha' bin Yassar pernah bertanya kepada Abu Ayyub al-Ansori tentang cara berkorban pada zaman Rasulullah s.a.w. Lalu Abu Ayyub menjawab:

كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ
Maksudnya:
"Dulu seseorang berkorban seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya lalu mereka memakannya dan membahagikannya kepada orang lain." – Hadis riwayat al-Tirmizi di dalam Sunan al-Tirmizi, hadis no: 1425.

6. Ibadah korban dilaksanakan di musolla.

Menurut sunnah Nabi s.a.w. solat sunat Aidiladha mahupun Aidilfitri dilaksanakan di musolla. tempat terbuka (seperti padang) sehingga khatib dapat melihat semua hadirin Dalil yang menunjukkan disunnahkan untuk mengerjakan solat sunat Hari Raya di musolla adalah sebuah hadis daripada Abu Sa'id al-Khudri r.a, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى. فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ.
Pada hari Aidilfitri dan Aidiladha, Rasulullah s.a.w. keluar menuju musholla. Ketika itu yang pertama baginda lakukan adalah solat Hari Raya. - Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya, no: 956.

Sebagaimana yang telah kita maklum solat di Masjid Nabawi adalah lebih baik daripada solat 1000 kali di masjid lain selain Masjidil Haram. Namun ternyata meskipun dengan keutamaan sebesar ini Rasulullah s.a.w. tetap memerintahkan para sahabat untuk mendirikan solat Hari Raya di musolla. Ibnu Qudamah r.h di dalam al-Mughni (jilid 3, ms. 260) berkata:

"Mengerjakan solat Hari Raya di musholla adalah sunnah, kerana dahulu Nabi s.a.w. keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya (iaitu Masjid Nabawi). Demikian pula para khulafa' al-Rasyidin. Dan ini merupakan kesepakatan kaum muslimim. Mereka telah sepakat di setiap zaman dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika solat Hari Raya."
Oleh itu disunnahkan melaksanakan ibadah korban di tanah lapang yang digunakan untuk mengerjakan solat Aidiladha (musolla) demi memperlihatkan syiar Islam.

Menurut Ibn Umar r.a, Nabi s.a.w telah bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى

Maksudnya:
"Sudah menjadi kebiasaan baginda menyembelih dan berkorban di musolla." – Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 5552.

7. Sunnah menyembelih sendiri haiwan korban.

Sunnah dan afdal mereka yang ingin melaksanakan ibadah korban tersebut agar menyembelih haiwan korbannya dengan tangannya sendiri.

Anas r.a berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ

Maksudnya:
"Nabi s.a.w pernah berkorban dengan dua ekor kambing biri-biri yang bagus lagi bertanduk. Baginda menyembelih kedua-duanya dengan tangan baginda sendiri." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 5565.

Namun, dibolehkan juga bagi mereka yang ingin berkorban mewakilkan penyembelihan kepada orang Islam yang lain.

8. Menyembelih haiwan korban mengikut sunnah.

Hendaklah menyembelih haiwan korban menggunakan objek yang tajam seperti pisau dan dilakukan dengan cepat agar haiwan tersebut mati dengan serta-merta. Sebelum upacara menyembelih diadakan, baringkan haiwan korban tersebut pada sebelah sisi kirinya agar mudah memegang pisau dengan tangan kanan dan memegang atau menahan lehernya dengan tangan kiri. Ketika menyembelih hendaklah membaca (بِسْمَ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر).

Anas r.a berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Maksudnya:
"Nabi s.a.w pernah berkorban dengan dua ekor kambing biri-biri yang bagus lagi bertanduk. Baginda menyembelih kedua-duanya dengan tangan baginda sendiri dengan menyebut nama ALLAH dan bertakbir seraya meletakkan kaki baginda pada lambung keduanya." - Hadis riwayat al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, hadis no: 5565.

Ketika menyembelih kita hendaklah mengerat salur udara, kerongkong dan saluran darah leher haiwan tersebut tanpa mengerat gentian saraf di dalam tulang belakang. Darah dari anggota badan haiwan korban tersebut hendaklah dialirkan keluar sepenuhnya sebelum melapahnya.

9. Daging korban tersebut boleh dimakan, disedekah dan dihadiahkan.

Sunnah bagi keluarga yang melakukan ibadah korban turut memakan sebahagian daging, menghadiahkan sebahagiannya kepada orang lain dan mensedekahkan sebahagian yang lain. Malah, mereka juga boleh menyimpan daging tersebut.

Sabda Nabi s.a.w:

فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا
Maksudnya:
"Makan dan simpanlah serta sedekahkanlah (daging korban itu)." - Hadis riwayat al-Muslim di dalam Sahih al-Muslim, hadis no: 1971.

10. Tidak boleh mengupah tukang sembelih dengan daging korban.

Sudah menjadi lumrah bagi masjid-masjid di Malaysia memberi tukang sembelih daging korban tersebut sebagai upah bagi kerjanya. Perbuatan ini bertentangan dengan syarak dan dilarang keras oleh Rasulullah s.a.w. Upah kepada tukang sembelih hendaklah diberikan menggunakan harta sendiri dan bukannya dari hasil daging binatang korban itu.

Ali r.a berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا. قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Maksudnya:
"Nabi s.a.w pernah menyuruhku menyempurnakan seekor unta milik baginda kemudian menyedekahkan daging, kulit dan pelindung yang dikenakannya serta aku juga tidak memberi apa pun kepada tukang sembelih tersebut. Dia berkata: Kami memberinya dengan harta kami sendiri." - Hadis riwayat Muslim di dalam Sahih Muslim, hadis no: 1317.

Demikianlah beberapa sunnah Rasulullah s.a.w ketika melaksnakan ibadah korban sempena sambutan Aidiladha. Oleh itu, kita hendaklah bersungguh-sungguh mengamalkan sunnah-sunnah tersebut.

Berbahagialah orang-orang yang diberi taufik oleh ALLAH dalam beribadah kepada-NYA dengan mengikuti sunnah Nabi-NYA dan tidak mencampur-adukkannya dengan amalan bid'ah.
Push-Up Arrow